Curahan Hati Sang Lampu Merah

Duhai,

maukah kalian mendengarkan cerita pilu yang telah terjadi pada diriku ini? Tolong dengarkanlah, dengar baik-baik.

Alkisah pada suatu masa di suatu kota indah nan permai, telah terjadi suatu ketidakberaturan lalu lintas yang kronis di jalan raya. Kendaraan saling serobot di persimpangan, tidak ada yang mau mengalah untuk berhenti. Kecelakaan pun sering tak terelakkan. Menanggapi hal ini, para pemegang tampuk kekuasaan negeri tidak tinggal diam. Mereka bekerja larut malam untuk mencari solusi dari permasalahan yang sedang terjadi.

Singkat kata, terciptalah kami, lampu lalu lintas, bersama seperangkat komponen pengatur lalu lintas lainnya (Pak Polisi, rambu lalu lintas, marka jalan, dsb). Kami bertugas untuk mengatur laju kendaraan pada setiap persimpangan. Kami atur para pengendara dengan memberikan tanda berupa warna lampu, apakah kendaraan harus berhenti atau tetap melaju. Kami berperawakan tinggi dan berwarna merah, kuning, dan hijau. Elok dilihat, namun tetap gagah mengatur. Saudaraku yang pertama, si kuning, memberikan tanda bahwa para pengendara harus bersiap untuk berhenti atau melaju. Sementara saudaraku yang terakhir, si hijau, memberikan tanda bahwa pengendara diperbolehkan untuk melaju. Kami, sebagai pengatur lalu lintas, selalu berkoordinasi dengan lampu lalu lintas di persimpangan lainnya supaya arus kendaraan tetap berjalan tertib.

Seiring waktu berjalan, para masyarakat di kota ini semakin bertambah. Maklum, kota dengan latar belakang sejarah yang besar ini memang memiliki daya tarik yang sangat tinggi untuk ditinggali. Otomatis, tanpa disadari, jumlah kendaraan pun semakin banyak. Bayangkan, dahulu kami para petugas lampu lalu lintas paling hanya mengatur sekitar 200,000-an kendaraan. Namun sekarang mungkin jumlahnya sudah meningkat pesat sepuluh kali lipat, yaitu sekitar 2 juta-an!

Tugas berat pun tidak pernah luput menghiasi hari kerja kami.  Kami harus selalu bekerja ekstra mengatur jumlah kendaraan yang semakin hari semakin bertambah terus!

Di kota ini, pertambahan kendaraan tidak diimbangi secara proporsional dengan pertambahan ruas jalan raya. Pertambahan ruas jalan raya sangat kecil, jauh jika dibandingkan dengan kendaraan. Dengan kondisi seperti ini, pastilah timbul kemacetan. Kemudian, aku perhatikan lama kelamaan perilaku para pengendara semakin menjengkelkan. Perilaku ini dipicu oleh kemacetan yang sudah melanda di beberapa ruas jalan kota.

Kau tahu? Mereka mulai mengabaikan diriku! Mereka lebih menyukai saudaraku Si Hijau! Aku hanya dianggap jika ada Pak Polisi saja! Jika tidak ada Pak Polisi, mereka bablas saja walau diriku sedang menyala, tidak peduli apakah ada kendaraan lain yang melaju dari sisi yang lain. ‘Yang penting cepat sampai, kecelakaan urusan belakangan’, mungkin itu slogan mereka saat ini.

Sekarang, Si Hijau merupakan primadona, menjadi warna yang sangat ditunggu-tunggu untuk menyala. Sementara diriku? Dihina dan dicaci, karena terlalu lama memberhentikan para pengendara.

Sungguh egois mereka! Lihatlah sekarang, jika mereka berada di sisi saat aku sedang menyala, mereka tetap melajukan kendaraan, meskipun di sisi lain si Hijau juga sedang menyala. Sementara, jika mereka berada di sisi saat si Hijau sedang menyala, mereka akan membunyikan klakson sebrutal-brutalnya, bahkan terkesan ingin menabrak, jika mereka melihat kendaraaan dari sisi lain menerobos diriku.

Apakah kondisi ketidakberaturan yang kronis pada dulu kala akan terulang? Aku pribadi tidak ingin terjadi seperti itu. Aku ingin seperti dulu, dimana aku, dan saudara-saudaraku diperlakukan secara adil dan tertib.

Walau kondisi saat ini sudah mulai memburuk, aku masih berharap kepada para pengendara berhati malaikat yang secara konsisten mematuhi kami para perangkat pengatur lalu lintas, entah separah apapun kondisi jalan raya. Mereka memang sedikit, namun hanya kepada mereka-lah kami berharap, supaya kondisi lalu lintas berangsur membaik seperti sedia kala.

Salam keteraturan,

Lampu Merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s