Teori Spekulasi

Kutipan bacaan ini saya salin dari bukunya Bang Tere Liye yang berjudul Negeri Para Bedebah (yang kebetulan juga sudah saya review di Blog ini). Kutipan ini menceritakan tentang teori dalam berspekulasi. Menurut saya bacaan ini menarik, tetapi entahlah, apakah teori ini valid atau tidak saya masih belum tahu🙂

So, here’s the story, let us begin with the “Background”..

•••

Usiaku menjelang empat belas tahun saat aku pertama kali mengunjungi Opa. Libur panjang sekolah, membawa ransel kecil di punggung, aku menumpang angkutan umum dari sekolah berasrama.

Malam terakhir di sana, aku dan Opa berdua menghabiskan waktu dengan duduk santai di beranda belakang, menonton televisi, acara kesayangan Opa. Acara kuis, tiga layar terpentang lebar menutupi hadiah. Satu peserta yang maju ke babak bonus menghadapi situasi “hidup-mati”, membawa pulang hadiah besar atau kembali dengan tangan hampa. Dialah finalis kuis.

“Satu di antara tiga layar ini adalah sebuah mobil  mewah terbaru.” Pembawa acara memasang wajah semringah, menunjuk layar televisi besar yang segera menayangkan bentuk dan rupa mobil itu.

Penonton di studio bertepuk tangan antusias. Wajah finalis kuis menyimpul senyum.

“Satu lagi adalah seekor sapi perah yang gemuk.” Pembawa acara tertawa. Penonton di studio ikut tertawa.

“Ayolah,” pembawa acara mengangkat bahu, “saya tidak bergurau. Sungguhan seekor sapi. Kami menyediakan truk besar untuk membawanya pulang nanti. Penonton di studio tertawa lagi, finalis kuis manggut-manggut tertawa pelan.

Aku ikut tertawa, meletakkan garpu ke atas piring—pembantu rumah Opa memasak menu lezat untuk menemani makan malam santai. Di sekolah berasrama jangankan menonton, televisi satu pun tidak ada di sana. Terlepas dari fakta itu, aku segera mengerti, pantas saja Opa suka menonton acara kuis, menarik. Lihat, Opa sudah terkekeh di sebelahku.

Pembawa acara mengangkat tangan, menyuruh penonton di studio diam sejenak. Musik latar terdengar lebih cepat. “Nah, sayangnya,  pemirsa di rumah dan hadirin di studio, satu layar lagi, tentu saja, menutupi sebuah kotak sampah.” Layar televisi besar segera menunjukkan kotak sampah berwarna kuning yang sering kalian lihat di trotoar jalan.

Penonton di studio tertawa—meski tidak sekencang soal sapi tadi. Finalis kuis tersenyum—meski senyumnya sekarang terlihat kecut.

“Baiklah, mari kita bermain. Anda pilih layar yang mana, Bung?” Satu, dua, atau tiga?” Amat bergaya pembawa acara menawarkan kesempatan pertama kepada finalis. Permainan babak terakhir telah dimulai.

Lima menit berlalu tegang. Finalis memilih layar satu.

“Anda yakin?”

Finalis kuis mengangguk.

“Baik. Kita kunci layar satu.” Hadirin di studio bertepuk tangan menyemangati.

“Kalau begitu, tolong dibuka layar nomor dua, layar yang tidak dia pilih,” pembawa acara memberi perintah. Layar dua segera tergulung ke atas.

Aku terpingkal bersama Opa, juga bersama penonton di studio—sampai melupakan wajah supertegang finalis yang merangkai doa. Di balik layar dua, sungguhan seekor sapi gemuk terlihat gelisah, moncongnya diikat rapat. Seorang peternak andal sejak tadi berdiri di sebelah sapi itu, mengelus-elus pundak si sapi, agar sapi itu diam dan tidak membuat pertanda ada seekor sapi di balik layar dua.

“Bukan main. Mari kita lupakan sapi perah barusan. Permainan ini semakin menarik.” Pembawa acaranya menghela napas.

“Tersisa dua layar, Bung. Satu adalah mobil mewah terbaru. Satu lagi kotak sampah berwarna kuning.” Pembawa acara mengangkat tangan, memberi tanda.

Penonton di studio kembali hening. Wajah finalis semakin tegang.

“Anda sudah memilih layar nomor satu. Apakah kita akan membuka layar nomor satu sekarang?”

Penonton berseru-seru antusias, mengangguk. Pembawa acara menggeleng takzim. “Kita buat acara ini lebih menarik.”

Penonton justru semakin berseru-seru antusias.

“Saya tidak tahu layar mana yang menyembunyikan mobil mewah itu. Percayalah. Hanya Tuhan dan beberapa orang di belakang studio yang tahu. Bahkan keputusan di mana mobil itu berada, baru dilakukan beberapa menit sebelum babak bonus. Nah, karena saya tidak tahu, semua orang di sini juga tidak tahu, saya akan memberi Anda kesempatan menukar pilihan. Tetap di layar nomor satu? Atau pindah ke layar nomor tiga?”

Aku menelan ludah, benar-benar melupakan makanan lezat di atas piring—padahal makan di sekolah asrama tidak pernah selezat ini. Mataku sempurna tertuju ke layar kaca.

“Tetap di layar satu atau pindah ke layar tiga?” Pembawa acara mendesak, mengulangi pertanyaan kesekian kali. Sudah dua menit berlalu tanpa keputusan.

“Pindah.” Terdengar jawaban mantap. Tetapi itu bukan jawaban finalis kuis. Itu suara Opa di sebelahku. Aku menoleh, menatap wajah Opa yang terlihat begitu yakin.

“Kalau kau dalam situasi seperti ini, kau akan pindah, Tommi,” Opa menjawab santai.

“Bagaimana Opa tahu?”

“Pindah saja. Insting.”

“Tapi Opa tidak tahu di mana mobilnya, bukan?”

“Karena itulah. Ketika tidak ada yang tahu, permainan berjalan adil dan sebagaimana mestinya, maka seorang penjudi ulung, seorang petaruh berpengalaman akan memilih pindah.”

“Kenapa?” aku mendesak.

Opa terkekeh. “Mana Opa tahu, Tommi. Itu hanya naluri, sekedar insting seorang petaruh.”

•••

And now, the main  part, where the theory is explained…

•••

Waktu itu umurku menjelang empat belas tahun. Aku tidak paham naluri dan insting yang dikatakan Opa—meski aku tahu sekali, sejak memutuskan mengarungi lautan, mengungsi dari tanah kelahirannya, Opa tumbuh menjadi pelaku bisnis yang hebat, petarung sejati.

Aku baru tahu penjelasan itu di sekolah bisnis.

Salah seorang guru besar, yang juga penjudi ulung di Texas—pekerjaan sampingan selain akademisi—memberikan kasus yang sama. Ada tiga kotak di depan kelas, di manakah yang berisi selembar tiket pesawat?

Professor itu menunjukku, memintaku bermain.

Aku menyeringai. Di bawah tatapan puluhan pasang mata peserta kuliah matematika bisnis tingkat lanjut yang antusias, aku sembarang menunjuk kotak. Hanya permainan memperebutkan tiket, bukan hidup-mati seperti peserta kuis sepuluh tahun lalu yang aku tonton bersama Opa.

Profesor mengangkat kotak lain yang tidak kupilih, kosong. Dia tertawa. “Nah, Thomas. sekarang tinggal dua kotak tersisa. Kau akan tetap memilih kotak sebelumnya, atau kau akan pindah?”

Ruangan kelas menjadi sedikit tegang.

Saat itulah, ilham pengetahuan masuk ke kepalaku. Opa benar sekali. Aku dengan santai bilang, “Pindah.”

Ruangan besar kelas kami dipenuhi seruan. Profesor mengedipkan mata, menyuruh mereka diam. “Kenapa kau memilih pindah, Thomas?”

Aku tertawa pelan, mengusap wajah. Entah bagaimana caranya, aku paham seketika teori berjudi Opa. Bukan karena naluri, melainkan karena setelah sepuluh tahun berlalu, belajar banyak hal, berada dalam kelas yang mengagumkan ini, penjelasan itu datang sendiri di kepalaku, sungguh bukan insting.

Penjelasannya amat sederhana. Ada tiga kotak, itu berarti kemungkinan kalian memenangkan pertaruhan adalah 33,3%, alias sepertiga. Itu kemungkinan yang rendah, bahkan di bawah 50%, permainan “ya” atau “tidak”. Ketika aku memilih salah satu kotak, lantas Profesor di depanku membuka kotak lain yang ternyata kosong, maka kemungkinanku sekarang adalah 50%, bukan? Apakah aku akan pindah? Ingat rumus ini: Jika kalian tetap di pilihan sebelumnya, variabel baru yang hadir dalam permainan tidak diperhitungkan. Jika kalian tetap di pilihan pertama, dengan dua kotak tersisa, kesempatan kalian untuk menang sesungguhnya bukan 50%, melainkan tetap 33,3%, karena kalian tetap memilih kotak yang sama dari tiga kotak sebelumnya.

Pindah! Lakukan segera, tutup mata. Denga demikian, kalian memasukkan variabel baru dalam permainan. Berapa kesempatan kalian menang? 50%? Tidak, kalian menjadikannya 66,6%. Ada tiga kotak dalam permainan, dan kalian diberi kesempatan memilih dua kali. Apakah kalian otomatis akan memenangkan permainan? Tentu tidak, masih ada 33,3% kemungkinan kalah. Tetapi kemungkinan 66,6% jauh lebih baik. Aku tidak akan seperti peserta kuis yang keukeuh sekali dengan pilihan awal, resisten sekali mengubah pilihan. Aku memilih pindah.

Ruangan kelas lengang sejenak setelah penjelasanku.

Profesor menatapku tajam. “Kau yakin, Thomas?”

Aku tersenyum simpul. Ini mata kuliah matematika bisnis tingkat lanjut. Aku sama sekali tidak berjudi, aku menggunakan logika. Tentu saja teori ini hanya berlaku jika lawan bermain kalian tidak curang. Kalau pembawa acara kuis tahu di mana mobil itu berada, dia bisa menipu peserta dengan membujuk-bujuk, memanipulasi kalimat-kalimatnya, hingga peserta terkecoh.

“Buka saja, Prof.” Aku tertawa.

♦♦♦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s