Review Buku : Negeri Para Bedebah dan Berjuta Rasanya

Beberapa minggu yang lalu, saya telah selesai menuntaskan dua bacaan dari buku-buku yang saya beli bulan lalu. Bacaan ini merupakan sebuah karya dari penulis yang memiliki nama pena Tere Liye. Saya yakin tentu sudah banyak yang mengenal penulis ini,  karena bang Tere merupakan penulis yang cukup produktif. Sejauh ini yang saya tahu sudah ada sekitar 12 buku yang sudah dia tulis. Gaya penulisan yang sederhana namun indah tertulis, serta mengena di hati kerap mewarnai karya-karyanya. Berangkat dari sinilah, dimulai dengan rasa penasaran, lalu muncul keinginan untuk membaca lembaran-lembaran tulisan bang Tere🙂

Buku pertama yang ingin saya review adalah Negeri Para Bedebah

13515921331585352658

Membaca buku ini membuat saya menjadi orang yang tidak sabar. Saya tidak sabar untuk membuka lembaran buku berikutnya. Ceritanya begitu seru, cepat, penuh intrik dan aksi yang membuat para pembaca mungkin ikut terhanyut ke dalam suasana buku tersebut.

Buku ini berkisah mengenai petualangan seorang yang bernama Thomas. Thomas adalah konsultan keuangan profesional yang terkenal, lulusan dari sekolah bisnis luar negeri ternama. Di tengah pekerjaannya yang sangat padat, tiba-tiba dia dikejutkan dengan berita bahwa ada rencana untuk penutupan bisnis Bank Semesta yang dimiliki oleh pamannya, Om Liem.  Jika hal ini terjadi, tentunya Om Liem akan kewalahan untuk mengganti semua uang nasabah yang totalnya bisa mencapai trilyunan rupiah. Bank Semesta sudah didakwa bermasalah dan tinggal menunggu waktu untuk penangkapan Om Liem dan ditutupnya Bank Semesta.

Dari hal itulah Thomas berkeinginan untuk menyelamatkan Bank Semesta. Bukan karena faktor saudara yang menyebabkan Thomas bertindak seperti itu, Thomas sendiri di dalam buku tersebut diceritakan sudah membenci Om Liem semenjak terjadinya peristiwa  yang tidak dapat dia lupakan di umurnya yang ke enam. Semenjak itu dia tidak pernah menjalin komunikasi lagi dengan Om Liem sampai kasus ini terjadi. Faktor yang mendorongnya adalah Thomas merasa ada yang tidak beres dalam kasus ini. Thomas mencurigai bahwa kasus ini merupakan sebuah konspirasi oleh sebuah sekelompok orang dan sengaja direkayasa untuk membuat bisnis Om Liem kolaps. Thomas menduga-duga bahwa kasus ini ada kaitannya dengan peristiwa yang tak terlupakan tersebut yang terjadi saat umurnya masih enam tahun.

Kilas balik, diceritakan peristiwa yang dialami oleh Tommy (panggilan masa kecil Thomas) yang membuat dirinya sangat membenci Om Liem. Singkatnya, pada saat itu rumah keluarga Tommy diamuk oleh massa yang marah karena merasa ditipu oleh bisnis yang dijalankan Ayah Tommy dan Om Liem. Amuk massa yang tak terkendali membuat orangtua Tommy meninggal saat itu. Sementara Opa dan Tantenya berhasil melarikan diri. Tommy sendiri sedang tidak berada di rumah saat peristiwa terjadi, dan kebingungan setelah mengetahui orangtuanya telah meninggal. Peristiwa itu bukan murni amukan massa. Amukan massa telah direkayasa dengan intervensi provokator. Provokator ini juga diciptakan oleh sekelompok orang yang ingin menghancurkan bisnis keluarga Om Liem.

Singkat cerita, Tommy pun bergegas untuk menyusun strategi penyelamatan Om Liem yang hampir ditahan oleh Polisi. Tommy menggunakan media, kerabat dan lain-lain untuk membuat rekayasa lawanan dari kasus ini. Tommy ingin membuat opini publik bahwa Bank Semesta pantas diselamatkan oleh negara. Tommy pun menjadi buron, karena dituduh membantu menyelamatkan Om Liem. Kejar-mengejar tak terelakan antara Tommy dengan polisi. Sampai akhirnya, terungkap semua nantinya wajah-wajah busuk yang tertutupi oleh topeng kepercayaan. Kawan menjadi lawan, lawan menjadi kawan dan penipuan dibalas dengan penipuan.

Buku ini sangat menarik, cocok untuk orang yang ingin membaca kisah aksi seru yang penuh intrik. Buku ini juga membahas secara cukup dalam mengenai istilah ekonomi. Di sini bisa kita temui mengenai sejarah uang, perbankan, obligasi, saham, bunga, IPO (Initial Public Offering), asal mula krisis dunia, dan aspek ekonomi lainnya. Nah, silakan baca buku ini! hitung-hitung belajar ekonomi bagi para pembaca yang bukan orang ekonomi:mrgreen: Namun, saya lebih kagum dengan bang Tere. Latar belakang sebagai lulusan FEUI dapat diterapkan keilmuannya dengan sukses di buku ini. Tere Liye dapat menjelaskan pemahaman ilmu ekonomi dengan bahasa yang sederhana, plus membuat cerita yang sangat membuat jantung berdegup kencang.😀

Saya ingin mengutip quote dari buku ini (sayang cuma satu yang tercatat)

Kejadian menyakitkan selalu mendidik kita menjadi lebih arif.

Buku kedua adalah Berjuta Rasanya

Buku ini terdiri dari kumpulan cerita-cerita pendek yang berjumlah 15 cerita. Buku dengan tebal yang relatif tipis (204 halaman) cukup ringan untuk dibaca. Saya pribadi menyelesaikan dengan waktu yang singkat. Namun ingin kembali rasanya untuk mengulang membaca buku ini karena banyak makna yang terkandung pada kumpulan cerita-cerita ini. Tidak seperti membaca buku Negeri Para Bedebah yang seolah-olah membuat kita menjadi tergesa-gesa, membaca buku ini membuat suasana lebih rileks.

Cerpen pada buku ini bertema cinta. Namun, perlu diingat, kisah cinta yang diambil bukan konteks cinta pada umumnya. Tere Liye menceritakan cinta dari sudut pandang yang baru dan menceritakannya dengan penuh makna. Subtema dari cerpen-cerpen ini cukup menarik dan fresh. Ada yang bercerita tentang filosofi cinta. Ada juga yang mengenai definisi ‘cantik’ oleh wanita itu sendiri.

Salah satu favorit saya adalah sebuah cerita yang menceritakan suatu kota yang penuh dengan para penemu. Barang-barang berteknologi dapat dengan mudah ditemukan di kota itu. Namun permasalahan di kota ini adalah tingkat populasi bayi yang menurun. Usut punya usut, hal ini dilandasi oleh para muda-mudi di kota tersebut yang tak berani menyatakan cinta. Mereka takut pernyataan cinta kepada orang yang disukai akan tak berbalas. Mereka takut sakit hati. Dengan bayang-bayang jumlah penduduk muda yang semakin sedikit, para tetua kota mengadakan rapat akbar dengan pihak terkait untuk mencari solusi dari masalah ini.

Singkatnya, setelah diadakan rapat akbar itu, terciptalah sebuah alat yang bernama Cintanometer. Alat ini dipasang di telinga dan dapat mendeteksi level ‘cinta’ seseorang kepada kita dalam radius tertentu. Para muda-mudi tidak usah takut lagi cinta mereka tidak berbalas. Mereka tinggal menggunakan cintanometer dan dengan segera dapat mengetahui orang tersebut suka dengan kita atau tidak. Cintanometer laku keras. Hasilnya pun positif dilihat dari populasi bayi yang meningkat. Para tetua sangat berbangga akan penciptaan Cintanometer. Hari berganti menjadi tahun, dan lima tahun telah berlalu semenjak terciptanya alat ajaib itu. Kemudian setelah itu, datanglah seorang pemuda dari negeri seberang ke kota itu. Dia memperkenalkan diri ke penduduk kota dalam acara pesta di balai kota, seraya berkata  “Namaku Jun. Aku pengelana hati. Datang dari jauh mencari cinta. Adakah gadis rupawan di kota ini yang masih sendiri dan mau menghabiskan sisa hidup bersamaku?” mereka menatapku aneh sekali. Seperti kalian sedang menatap mahkluk dari galaksi lain.

Seperti biasa quote yang saya suka dari buku ini

“Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s