Pengalaman I’tikaf keliling Ramadhan 1433 H di Jakarta serta Update Tahun-Tahun Berikutnya

Ramadhan kemarin yang baru saja selesai ini menyisakan pengalaman baru buat saya.  Pengalaman itu adalah keliling mesjid untuk i’tikaf pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan. Kegiatan ini dimulai saat teman kantor saya mengajak untuk melakukan i’tikaf keliling bareng di beberapa mesjid di Jakarta. Saya yang selama empat tahun ini banyak menghabiskan Ramadhan di Bandung  tentu saja langsung mengiyakan ajakan teman saya. Ini merupakan pengalaman pertama saya i’tikaf keliling di Jakarta :)

Langsung saja kami berdua mulai berdiskusi untuk menentukan pilihan masjid tempat i’tikaf. Tak butuh waktu lama, mesjid2 tersebut sudah terpilih dengan berdasarkan kenyamanan i’tikaf dan kajian yang diadakan di mesjid tersebut. Walaupun pilihan masjid ditentukan bersama oleh teman saya, sayangnya kami hanya melakukan i’tikaf bareng selama 3 hari. Oleh karena itu mesjid-mesjid yang ingin saya sebutkan disini adalah mesjid berdasarkan tempat saya melakukan i’tikaf bukan dari pilihan yang telah ditentukan bersama. 

Kalo dari jadwal mulanya sih seperti ini, tapi kenyataannya berbeda. Kami hanya melakukan i’tikaf bareng pada malam ke 25, 26 dan 27, sisanya sendiri2 hehe..

malam ke 21 Masjid Baitul Kamal Depok
malam ke 22 Masjid Bimantara
malam ke 23 Masjid Al-Hikmah
malam ke 24 Masjid Al-Hikmah
malam ke 25 Masjid Baitut Taqwa Dirjen Bea Cukai
malam ke 26 Masjid Baitul Hikmah Elnusa
malam ke 27 Masjid Baitul Hikmah Elnusa
malam ke 28 Masjid Baitul Hikmah Elnusa
malam ke 29 Masjid Baitul Hikmah Elnusa

Nah, kalo jadwal saya ini agak sedikit berbeda. Saya akan sebutkan disini beserta kesan-kesannya.

Malam ke 21

Saya melaksanakan i’tikaf di masjid Al-Ittihad. Masjid ini berlokasi di daerah Tebet Mas, kebetulan dekat sekali dengan tempat kos saya, hanya 5 menit dengan jalan kaki.

tampak depan mesjid

bagian dalam mesjid (source : http://desnantara-tamasya.blogspot.com/2012/02/masjid-al-ittihad-tebet-jakarta.html)

Masjidnya enak,  ber-AC, sehingga  membuat suasana i’tikaf menjadi lebih nyaman. Untuk makan sahur bersama, daftar terlebih dahulu ke panitia dengan infaq sukarela jika hanya i’tikaf 1 hari. Tetapi jika full selama 10 hari di mesjid Al-Ittihad, kalau tidak salah dikenakan biaya sebesar 100rb. Kegiatan i’tikaf di mesjid ini dimulai dengan acara kajian malam dari jam 21-22. Pada saat saya i’tikaf disana, kajiannya mengenai serba-serbi Syi’ah. Kemudian acara bebas setelah itu. Saat jam 1 nanti akan dibangunkan untuk melaksanakan qiyamul lail berjamaah.  Yang berkesan saat i’tikaf di mesjid ini adalah saat qiyamul lailnya yang menghabiskan 3 juz untuk 8 rakaat, dengan jeda setiap 2 rakaat. Oleh karena itu qiyamul lailnya berlangsung kurang lebih 3 jam, mulai dari jam 1 sampai jam setengah 4 / 4. Walaupun terkadang mata saya agak berat dan kaki pegal2, tapi Alhamdulillah saya dapat mengikuti sholat qiyamul lail sampai selesai. Bacaan imamnya pun enak, jadi kalau kita tetap fokus ke bacaan imam, insya Allah tidak terlalu berat bebannya.

Setelah itu dilanjutkan dengan sahur bersama. Di masjid ini, cara makannya baik sahur ataupun buka bersama (kebetulan saya sering juga buka bersama di masjid ini) adalah satu piring bersama-sama untuk empat orang. Cara makan seperti ini mungkin ditujukan untuk meningkatkan rasa kebersamaan dan rasa mencintai antar saudara sesama kaum Muslimin.

Malam ke 22

Saya melaksanakan i’tikaf di masjid Baitul Ihsan yang berada di Kompleks BI. Masjid ini mungkin sudah banyak yang mengenal karena lokasinya yang strategis dan bangunannya yang indah.

bagian-bagian Masjid Baitul Ihsan (source : http://km.dmi.or.id/)

Saat i’tikaf disini, saya bareng dengan teman semasa kuliah saya. Masjidnya bagus sekali, terlihat megah dan kokoh, sepadu dengan kompleks BI disekitarnya. Karpetnya pun juga empuk dan tebal sehingga tidur jadi nyaman :). Kegiatan i’tikaf di mesjid ini dimulai dengan kajian malam. Sayangnya pada waktu itu saya telat datangnya, sehingga saat saya sampai kajian sudah hampir rampung. Setelah kajian, acaranya bebas. Kemudian dibangunkan pada jam 2 untuk qiyamul lail berjamaah. Di masjid ini saya tidak sampai selesai mengikuti qiyamul lail berjamaahnya, hanya sampai 8 rakaat :P. Saya tidak ingat sampai berapa rakaat sholat malamnya, tetapi tidak sampai 3 juz seperti di masjid Al-Ittihad. Yang berkesan dari masjid ini adalah AC sangat kuaat sekali, saya sampai kedinginan dibuatnya hehe..

Untuk makan sahur, daftar terlebih dahulu ke panitia dengan infaq seikhlasnya. Saat itu sahur yang disediakan adalah nasi padang. Setelah sahur bersama, kemudian dilanjutkan dengan subuh berjama’ah. Setelah itu saya tidur sebentar, bangun lagi sekitar jam 8. Saat saya ingin pulang, pintu masuk tempat saya masuk malam sebelumnya sudah ditutup. Saya pun bingung, karena motor saya parkir di RS sebelah kompleks BI bukan di dalam kompleks BI. Walhasil saya harus berjalan memutar cukup jauh ke tempat parkir motor. Lain kali kalo mau ke masjid BI lagi, sebaiknya parkir langsung di dalam kompleksnya.

Malam ke 23

Malam ini saya melaksanakan i’tikaf di Masjid Bimantara. Masjid ini berlokasi di daerah Kebon Sirih, satu kompleks dengan MNC Tower.

masjid Bimantara difoto dari bawah (source : http://infomudik2009.wordpress.com/info-ramadhan/spirit-ramadhan/masjid-bimantara-pendamping-menara-kebon-sirih/)

Kali ini saya i’tikaf hanya seorang diri saja. Masjid Bimantara memiliki desain arsitektur yang sangat apik, letaknya pun menggambarkan keagungan mesjid itu sendiri, seperti yang dapat dilihat pada gambar di atas, berada di bagian atas. Jadi kita harus menaiki sekitar 60 anak tangga untuk mencapainya. Kegiatan i’tikaf di masjid ini dimulai dengan kajian malam dari jam 22-23. Kajian ini diisi oleh Ust. Abdul Muis yang juga merupakan Ustadz di masjid Al-Hikmah. Ust. Abdul Muis mengisi kajian tentang kisah tauladan Utsman bin Affan. Kemudian acara bebas setelah kajian. Saat jam 02.15 panitia membangunkan peserta i’tikaf untuk melaksanakan qiyamul lail berjamaah. Qiyamul lail dipimpin oleh imam Ust. Muhtar Fatawi Al-Hafidz. Yang paling berkesan adalah pada saat qiyamul lail. Qiyamul lailnya tidak berlangsung lama, tapi imamnya itu, Subhanallah, bagus sekali suaranya dan sedu sedan lantunan bacaannya. Sampai menangis saya dibuatnya. Ah, ingin lagi rasanya diri ini mendengarkan bacaan Ust. Muhtar Fatawi.

Untuk makan sahur, peserta i’tikaf mendaftar terlebih dahulu ke panitia dengan infaq sebesar 5 ribu rupiah, tidak sebanding dengan nasi box yang memiliki lauk pauk lebih dari cukup untuk makan sahur. Setelah sahur, acara dilanjutkan dengan subuh berjama’ah dan tausiyah yang diisi oleh Ust. Ade Kholifah. Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari pengurus mesjid, para imam dan pengisi acara kebanyakan didatangkan dari masjid kubah emas atau masjid At-Thin.

Malam ke 25

Pada malam ke 25 akhirnya saya i’tikaf bareng dengan teman kantor saya. Malam ini kami i’tikaf di masjid Baitut Taqwa di area perkantoran Dirjen Bea Cukai. Dirjen Bea Cukai berlokasi di Jl. Ahmad Yani (bypass) Rawamangun.

Masjid ini terlihat lebih sederhana jika dibandingkan dengan masjid sebelumnya, tetapi bagian dalamnya tidak jauh berbeda, penuh dengan keindahan. Kegiatan i’tikaf dimulai dengan kajian malam dari jam 22-23.  Saat itu kajiannya mengenai zakat. Setelah kajian, acaranya bebas. Kemudian dibangunkan kalau tidak salah pukul 02.45 untuk solat qiyamul lail berjamaah. Waktu solat tidak terlalu lama. Setelah solat dilanjutkan dengan sahur bersama. Yang berkesan dari mesjid ini adalah lokasinya yang sangat hening, jauh dari keramaian. Walaupun lokasi Dirjen Bea Cukai berada di pinggir jalan, masjid ini berada di jauh bagian dalam, sehingga terhindar dari suara bising kendaraan.

Untuk sahur bersama peserta i’tikaf harus mendaftar terlebih dahulu ke panitia dengan infaq sebesar 10 ribu rupiah. Sahur yang diberikan berupa nasi kotak lengkap dengan buahnya. Setelah sahur kemudian dilanjutkan dengan subuh berjamaah. Setelah itu saya tidur sebentar, kemudian bersiap-siap mandi untuk langsung berangkat ke kantor bersama teman saya.

Malam ke 26

Kali ini saya melaksanakan i’tikaf di masjid Al-Hikmah, berbarengan dengan teman kantor lagi. Masjid berlokasi di Jl. Bangka. Masjid ini  dalam tahap renovasi untuk perluasan gedung. Semoga renovasi mesjid ini dapat selesai dengan cepat sehingga dapat menampung jumlah jama’ah yang lebih banyak lagi.

Tampak luar masjid (source: http://www.dwiaryanti.com/2014/07/masjid-al-hikmah-masjidnya-para.html)

Masjid Al-Hikmah merupakan masjid pertama di Jakarta yang membuka pendidikan tahsin / tahfidz Al-Qur’an. Terdapat juga beberapa sekolah Islam dengan berbagai macam spesialisasi, contohnya sekolah dakwah. Kegiatan i’tikaf dimulai dengan kajian malam, tapi pada saat saya sampai disana, kajian sudah selesai. Lampu masjid sudah dimatikan dan sebagian besar orang sudah beristirahat. Para peserta i’tikaf dibangunkan pada jam 1 untuk melaksanakan Qiyamul lail. Qiyamul lail disini juga menghabiskan 3 juz. Untuk kali ini saya tidak selesai 3 juz, hanya sampai 8 rakaat hehe. Yang berkesan bagi saya adalah imam qiyamul lailnya masih muda sekali, mungkin baru sekitar 17 tahun. Sungguh kagum saya terhadapnya, pada umur semuda itu sudah bisa mengimami qiyamul lail dengan hapalan yang sudah sangat banyak. Subhanallah..

Untuk makan sahur, di masjid ini tidak menyediakan sahur seperti masjid sebelumnya. Saya mencari makan sahur di lingkungan sekitar masjid yang untungnya tidak jauh dari masjid. Teman kantor saya pernah bertemu dengan Pak Menteri Kominfo Ust Tifatul, tempat sahur saya pun juga sering dikunjungi oleh beliau. Jadi sering2 main ke Al Hikmah kalau mau bertemu dengan beliau 8). Setelah itu sholat subuh berjama’ah yang kemudian acara dilanjutkan oleh Ust. Abdul Muis. Pada saat di Masjid Bimantara, beliau sangat terlihat tenang, tetapi saat di Al-Hikmah gaya bicaranya berkobar-kobar. Sebenernya pada saat itu isi ceramah hanya meminta tindakan konkrit dari para jama’ah yang hadir dengan menuliskan berapa keramik / dinding untuk keperluan renovasi masjid. Para jamaah pada awalnya bingung karena tidak membawa uang yang cukup, tetapi Pak Ustadz bilang ‘ngga apa2 ngga cukup uangnya, tulis saja dulu, yang penting niatnya’, hehe..Walhasil para jama’ah saat itu sibuk menulis data diri dan besar sumbangan yang ingin diberikan, termasuk juga untuk jama’ah akhwatnya.

Malam ke 27

Pada malam ini saya dengan teman saya melaksanakan i’tikaf di Masjid Baitul Hikmah yang berlokasi di area perkantoran Elnusa yang berada di Jl. TB Simatupang.

Masjid ini juga memiliki desain interior yang sangat indah, entah didesain dengan model seperti apa tapi saya sangat suka melihatnya. Kegiatan i’tikaf di Masjid Baitul Hikmah dimulai dengan kajian malam dari jam 21-22. Sayangnya saat itu saya datang telat jadi hanya mendengar beberapa menit kajiannya. Kalau tidak salah mengenai keutamaan i’tikaf. Yang bagusnya lagi, masjid ini memiliki kamar mandi yang sangat banyak, jadi tidak mungkin sepertinya kalau ada yang mengantri. Peserta i’tikaf di mesjid Elnusa juga hanya pria saja, tidak ada wanita seperti di masjid-masjid sebelumnya. Setelah kajian, acara bebas. Peserta dibangunkan sekitar jam 2 untuk qiyamul lail berjamaah. Waktu qiyamul lail nya juga tidak terlalu lama. Yang membuat saya berkesan saat i’tikaf di masjid ini adalah lagi-lagi ‘terpesona’ pada imam qiyamul lail, Ust. Khoirul Anwar Al-Hafidz. Suaranya itu subhanallah, merdu sekali. Bacaan ayat-ayat suci dilantunkan dengan sangat indah. Saya pun sampai terbawa suasana saat beliau membacakan Ar-Rahman, saya yakin para jama’ah yang lain pun akan ikut terbawa suasana oleh suara Ust. Khoirul. Teman saya bilang Ust. Khoirul spesialis imam di malam-malam ganjil di Elnusa. Alhamdulillah, saya beri’tikaf di malam ganjil sehingga saya dapat bertemu dengan beliau. Ah, pertemuan pertama yang sungguh sulit untuk dilupakan.

Untuk makan sahur, seperti biasa para peserta harus mendaftar terlebih dahulu ke panitia dengan infaq sebesar 20 ribu. Makan sahur dikemas di dalam box dengan lauk pauk yang lengkap beserta buah jeruk. Setelah sahur bersama, dilanjutkan dengan subuh berjama’ah dan kuliah subuh yang diisi oleh perwakilan dari kelompok peserta i’tikaf yang diberi amanah untuk mengisi tausiyah pada pagi hari itu. Setelah mendengarkan tausiyah, kami pun bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Satu hal yang perlu diingat, jangan teledor pada saat tidur. Jangan seperti saya ini :oops: yang mengeluarkan dompet dan HP pada saat mau tidur. Maunya sih biar tidur lebih nyaman gitu, tapi saya pun sempat panik pada saat bangun. HP dan dompet saya raib. Setelah dicari-cari ternyata disimpan di ruangan panitia, maksudnya untuk memberi pelajaran untuk orang seperti saya ini. Kata panitia mereka juga ‘menyimpan’ beberapa HP maupun dompet dari para peserta i’tikaf yang lain hehe..Yah ini pelajaran buat saya supaya selalu bertindak waspada.

Malam ke 28

Pada malam ini saya mencoba untuk melaksanakan i’tikaf di Masjid Sunda Kelapa. Mungkin juga sudah banyak yang mengetahui karena masjid ini berdiri sudah cukup lama. Saya putuskan untuk i’tikaf disini karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari kosan saya di Tebet, saya juga ingin bertemu dengan teman karib saya dari SMP yang kebetulan juga pengurus RISKA (Remaja Islam Sunda Kelapa). Saat saya berada di sana, secara tidak sengaja saya juga bertemu dengan 2 orang teman SMA saya.

Bagian depan Masjid (source : http://www.islamedia.web.id/2012/01/masjid-sunda-kelapa-islamkan-345-mualaf.html)

Bagian dalam masjid (source : http://engineear.net/2009/12/13/masjid-sunda-kelapa-beribadah-sekaligus-berkuliner-ria/#jp-carousel-1178)

Area ibadah masjid ini cukup luas. Untuk jama’ah wanita ditempatkan di lantai bawah, sedangkan untuk jama’ah pria di lantai atas. Di lantai atas pun dibagi dua area. Area pertama adalah area luar yang tidak berpendingin udara, sedangkan area satu lagi adalah area utama yang berpendingin ruangan. Masjidnya enak, dingin, karpetnya juga tebal. Di masjid ini tidak ada kajian malam, mulai setelah tarawih, acara bebas. Tapi saat jam 1 acara diisi dengan tilawah bersama. Masjid ini bisa dibilang hi-tech karena menyediakan komputer beserta projector dan screen. Fungsi screen ini salah satunya menampilkan ayat-ayat Al-Qur’an pada saat tilawah bersama. Tilawah dilakukan sekitar 1.5 jam, kemudian dilanjutkan dengan qiyamul lail berjama’ah. Yang menarik adalah imam masjid langsung ‘diimpor’ dari Madinah. Saya lupa Syeikh siapa namanya. Suaranya pun jernih sekali, ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan beliau dengan indah. Saat solat, semua lampu dimatikan untuk menambah kekhusyukan dalam solat.

Untuk makan sahur, masjid ini tidak seperti kebanyakan masjid lainnya yang harus mendaftar terlebih dahulu. Masjid ini membagikan makanan gratis kepada seluruh peserta i’tikaf.  Walaupun gratis, yang kurang enaknya para peserta banyak yang berebutan makanan. Peserta pada saat itu ramai sekali, sampai ruang utama masjid penuh. Saya paling malas dengan yang seperti ini. Terlihat deh asli Indonesia-nya, yang sering mementingkan diri sendiri. Memang sih panitia pada awalnya membagikan makanan dengan tertib dimulai dari shaf pertama. Tetapi banyak yang tidak sabar, sehingga banyak yang menyerobot dan menyebabkan kondisi menjadi chaos sesaat. Saya sendiri pun menunggu untuk menghindari rebutan, alhamdulillah saya pun mendapat makanan walau sempat berebut meski cuma sebentar. Setelah sahur, dilaksanakan solat subuh berjama’ah. Setelah itu pun saya langsung pulang ke kos.

Nah, begitulah pengalaman saya i’tikaf keliling di masjid-masjid Jakarta. Semoga kita semua dapat berjumpa lagi dengan bulan Ramadhan, sehingga kita bisa mengasah diri kita untuk menjadi yang lebih baik. Semoga saya juga bisa melaksanakan lagi i’tikaf keliling tahun depan. PS : kalau saya bisa bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan, saya ingin ‘mencicipi’ i’tikaf di Masjid Agung Al-Azhar :wink:

Demikian, semoga bermanfaat!

FMN

Update: 

1. Masjid At-Tin

Tampak depan masjid (source : http://blog.republika.co.id/2013/07/21/763/)

Untuk Masjid At-Tin yang di Jakarta Timur, saya sempat mencoba i’tikaf disana saat tahun 2013 lalu. Masjidnya luas, area parkirannya pun juga. Banyak sekali jamaah yang datang untuk ber-i’tikaf di Masjid tersebut. Untuk makan sahur, Panitia membuka pendaftaran bagi para jamaah dengan membayar infaq.

Kegiatan i’tikaf di Masjid At-Tin sama seperti kegiatan di Masjid-masjid penyelenggara i’tikaf yang lain, yaitu dimulai dengan kajian setelah sholat tarawih, kemudian qiyamullail sekitar jam 2, dan ada ceramah subuhnya kalau saya tidak salah. Namun satu hal yang sangat mengganjal saat saya ber-‘itikaf disana ialah, suasana yang sangat bising dari suara-suara motor di balapan liar yang mengganggu kekhusyu’an sholat qiyamullail. Bagi yang sudah pernah ke Masjid At-Tin, pasti tahu bahwa di sebelah masjid, ada jalan lurus yang panjang, yang mana juga menjadi jalan masuk ke area Masjid, yang sangat disayangkan sekali dijadikan tempat balapan liar oleh rider-rider yang tidak tahu aturan. Saya tidak tahu bagaimana kondisinya sekarang, apakah masih terjadi qiyamullail yang terusik dengan bisingnya suara dari balapan liar. Semoga hal ini bisa diselesaikan dan didapatkan solusi terbaik oleh pihak masjid At-Tin, agar kenyamanan dalam beribadah tidak terganggu.

2. Masjid Istiqlal

Tampak depan Masjid Istiqlal (source: http://simbi.kemenag.go.id/simas/index.php/profil/masjid/19/)

Siapa yang tidak kenal dengan masjid yang satu ini? Masjid yang digadang-gadang sebagai masjid yang terbesar di Asia Tenggara ini sudah sangat akrab dan populer di masyarakat Indonesia, terlebih masjid ini sering sekali diliput televisi untuk acara-acara pelaksanaan sholat Ied yang biasanya dihadiri oleh Presiden. Masjid ini bisa dikatakan merupakan salah satu ikon bersejarah di Indonesia, dilihat dari umurnya yang sudah berdiri lebih dari 40 tahun, dan proses pembangunannya yang digagas oleh Presiden pertama kita Bung Karno.

Sebagai masjid terbesar di Indonesia, Istiqlal tidaklah melewatkan Bulan Ramadhan melainkan dengan mengisi kegiatan-kegiatan positif, salah satunya yang pasti adalah penyelenggaran i’tikaf di 10 malam terakhir bulan Ramadhan. Berkesempatan mencoba i’tikaf 2 tahun yang lalu, saya coba mengulas pengalaman selama beri’tikaf semalam di Istiqlal.

Susunan kegiatan malam saat I’tikaf kurang lebih sama seperti masjid-masjid lainnya. Dimulai dari sholat maghrib, isya, dan tarawih berjama’ah. Sepertinya ada kegiatan buka bersama juga ya, namun saya belum berkesempatan untuk mencobanya. Setelah tarawih, seingat saya ada acara seperti tadarus al quran dengan dipandu oleh Ustadz sehingga ada yang memperbaiki bacaan. Namun, kegiatan ini sepertinya tidak diwajibkan bagi seluruh peserta i’tikaf. Setelah itu acara dilanjut dengan kajian malam yang berakhir saat pukul 12 malam. Saat saya i’tikaf, pembicaranya adalah DR Ahmad Lutfi Fathullah yang merupakan pimpinan Pusat Kajian Hadis Jakarta.

Setelah itu, peserta diberikan kesempatan untuk istirahat, karena sholat qiyamullail dimulai pada pukul 1 malam sampai selesai. Imamnya pun biasanya memiliki bacaan dan suara yang baik. Ada juga petugas yang bertugas untuk membangunkan para peserta yang tidur di area yang akan digunakan untuk sholat agar tidak mengganggu bagi para peserta yang ingin sholat. Saat sahur, biasanya para peserta mencari makan di area luar yang banyak terdapat pedagang makanan.

Jama’ah yang datang ke Istiqlal pun sangat banyak, karena memang kapasitas masjid Istiqlal yang sangat besar yaitu sekitar 120,000 jama’ah. Akan tetapi, ramainya para jema’ah ini membuat suasana di Istiqlal nampak kurang bersih. Jamak saya lihat sisa makanan, bungkus plastik di area dalam masjid, terlebih lagi di luarnya. Belum lagi kalau ke toiletnya. Mohon maaf, toiletnya terlihat kotor dan bau pesing. Mungkin hal ini disebabkan kurangnya kesadaran dari para Jama’ah untuk menjaga kebersihan, dan petugas toilet yang jumlahnya terbatas. Namun, hal ini seharusnya menjadi perhatian penting oleh para pengelola masjid Istiqlal yang secara struktur Berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Karena juga, ada standar tidak tertulis yaitu, jika ingin melihat kerapian suatu masjid, jangan lupa lihat toiletnya!

2. Masjid Az-Zahra

Anda pernah ke daerah Gudang Peluru? Ya, di daerah inilah mesjid Az-Zahra berada. Lokasinya yang tidak jauh dengan kantor saya yang berada di Asem Baris, dan beberapa rekomendasi dari teman kantor yang sudah pernah kesini, membuat saya mencoba i’tikaf pertama kalinya di masjid ini saat Ramadhan kemarin.

Kesan yang saya dapatkan saat mengunjungi mesjid ini adalah suasana masjid yang tenang karena lokasinya sendiri berada di dalam area perumahan Gudang Peluru. Jika Anda ingin mencari suasana yang kondusif untuk ber’itikaf, masjid ini layak dicoba. Tetapi yang patut diperhatikan sebaiknya Anda membawa alas tidur dan selimut, karena AC di mesjid ini cukup kencang dan tidak memiliki karpet. Namun yang menarik, meskipun mesjid ini tidak beralaskan karpet, saya jadi teringat mesjid Salman yang berada di seberang gerbang depan kampus ITB. Kalau yang sudah kesana, pasti tidak asing lagi dengan lantai kayunya! Nah masjid Az-Zahra pun juga begitu.

IMG_20150708_205854165

Bagian dalam masjid Az-Zahra

Nah, mirip kan? Untuk kegiatan di masjid Az-Zahra dimulai buka bersama rutin, kemudian sholat tarawih, lalu kajian malam yang biasanya dimulai pukul 22.00. Namun kajiannya seingat saya hanya dilaksanakan saat malam-malam ganjil di 10 hari terakhir Ramadhan. Kemudian juga ada qiyamullail yang dimulai pukul 02.00. Untuk sahur, peserta i’tikaf tidak perlu repot-repot mencari makan keluar karena panitia masjid menyediakan makan sahur, tentunya dengan kita mendaftar terlebih dahulu. Paginya, saya tidak usah buru-buru berangkat ke kantor karena jarak tempuhnya yang dekat :)

15 thoughts on “Pengalaman I’tikaf keliling Ramadhan 1433 H di Jakarta serta Update Tahun-Tahun Berikutnya

      • Masjid Jakarta Utara : Istiqlal, Baitul Ihsan (BI), Sunda Kelapa (Menteng), Arief Rahman Hakim (UI Salemba), Bimantara (gedung MNC), Al-Hakim (Menteng), At-Taufiq, Yarsi (Cempaka Putih)
        Masjid Jakarta Selatan : Pondok Indah, Al-Azhar, Baitul Hikmah (Elnusa), Al-Hikmah (Mampang), An-Nur (Perdatam Pancoran), Jami’ Al Insan (Patal Senayan), As-Shofa (Lenteng Agung), Al-Ittihad (Tebet), Asy Syukur (Kebayoran Lama), At-Taqwa (pejaten)
        Masjid JakTim : At-Tin, Bea Cukai, Mudzakaroh (Kp Tengah), Baabus Salam (rawamangun), Pesantren Husnayain (pasar Rebo), Al-Qolam (Pondok Gede)
        Masjid JakUt : Jakarta Islamic Center, Astra, Kelapa Gading,
        Masjid JakBar : Indosat
        Tangerang : Baitul Hikmah, Bahrul Ulum, Al Adzom
        Sepertinya masih ada yang gak kesebut nih, dan 10 hari gak cukuuuup…. :(
        Kalau weekend dipastikan masjid-masjid besar pasti penuh.

  1. Salam, saya dari Malaysia, insha ALLAH, akan tiba di jakarta pd hari jumaat siang tanggal 18.7 dan pulang ke kuala lumpur ahad sore20.7. Saya mahu iktikaf2 malam di masjid yang berlainan. Minta akh cadangkan 2 masjid untuk saya iktikaf tapi yang dekat2. Saya juga ingin melawat masjid2 yang lain untuk acara siang hari. Minta akh cadangkan tapi yang dekat2 sahaja kerna saya hanya akan naik bajaj dan keretapi sahaja, budjet traveller. Jazakallahu khairan.

    • Salam. Kalau boleh tahu menetap di jakarta nya di daerah mana? Antum bisa cuba masjid Istiqlal, yang mana masjid terbesar di Asia Tenggara. Bisa juga cuba masjid BI (Baitul Ihsan) yang berada di kompleks Bank Indonesia, masjid Sunda Kelapa di daerah Menteng, atau masjid Bimantara yang berada di kompleks stasiun televisi MNC. Masjid-masjid tersebut berada di pusat kota. Jazakallahu khairan.

  2. saya selama ini hanya sekali menjalani itikaf di msjid al azhar…sepertinya beda sekali dengan kegiatan di mesjid2 yg disebutkan di atas…kegiatannya padat, sehingga waktu ibadah bisa maksimal…jadi tertarik mengikuti itikaf di mesjid2 itu….pengen punya teman yg bs diajak itikaf bareng…apa ada yg bs diajak bareng?

  3. Bi, tahun ini mesti coba di masjid an-nur di permata timur kalimalang mesjid nya bagus dan nyaman, itu masjid langganan i’tikaf keluarga ku, mesti coba!!

    • kondisi toilet di masjid yang mana mbak? hehe. secara umum sih layak digunakan. cuma saya terkesan sama toilet di masjid al ittihad dan baitul hikmah, karena kamar mandinya banyak dan bersih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s