Catatan Perjalanan Pendakian Gunung Gede 2-3 Juni 2011

Hmm,,bisa dibilang tulisan ini udah cukup basi, karena perjalanan ini dilakukan pada tahun lalu, 2011. Tapi daripada teronggok di tumpukan notes2 facebook yang ngga jelas, mending di share disini😀  Semoga bermanfaat, happy reading!

Bermula dari keinginan untuk mengisi waktu saat libur panjang dari tanggal 2-5 Juni (Kamis-Minggu), sang penggagas, Austen, memberikan masukan untuk mengisi liburan dengan naik gunung. Ide tersebut muncul pada minggu sebelum perjalanan ini dilaksanakan. Karena banyak dari teman kami yang cukup antusias untuk melaksanakan ide ini, dibuatlah forum messages di Facebook yang berisi segala hal tetek bengek yang berhubungan dengan pendakian ini seperti rundown, peralatan yang harus dibawa, dll. Awalnya sih cukup banyak yang bergabung di forum ini dan terkumpul 10 orang yang sudah pasti akan berangkat (ada beberapa teman yang memang tidak bisa ikut walau sudah bergabung dengan forum). Akan tetapi sangat disayangkan jumlah tersebut menyusut menjadi 6 orang pada hari H, dan 4 orang tersebut, karena satu dan lain hal (baca : hoax) tidak dapat mengikuti perjalanan ini.

Dan 6 orang terpilih (the chosen six) tersebut adalah :

  1. saya sendiri, Fabian, dan ini merupakan pengalaman pertama saya mendaki gunung,
  2. Arief, seorang teman saya yang memiliki kesabaran tiada tandingannya,
  3. Afif, teman saya yang berperawakan kecil-kecil imut dan kaskuser sejati,
  4. Zainal, teman saya yang mempunyai kapasitas otak di atas rata-rata,
  5. Ilham, seorang teman saya yang sering membuat keceriaan dan canda tawa,
  6. Austen, teman saya yang gemar jalan-jalan ke sana sini menghabiskan banyaknya waktu luang.

Oh iya ada satu orang nyempil, teman saya  Fauzan Makarim, seorang busmania sejati, dia tidak ikut mendaki tetapi hanya ikut sampai Pos Taman Nasional Gunung Gede Pangrango saja. Saat kami berangkat untuk mendaki, Fauzan pun juga langsung pulang ke Bandung.

siap berangkat dari ITB

So,here we begin..

Jadi, perjalanan dimulai dari Gerbang depan ITB dan kami semua kumpul pada pukul 07.30 kecuali Austen yang sudah menunggu di terminal Leuwi Panjang. Setelah berkumpul + cek perlengkapan + foto2, kami semua langsung menuju halte untuk menunggu bus Damri trayek 5 Dipati Ukur – Leuwi Panjang. Setelah menunggu sekitar 10 menit, bus pun datang dan untungnya bus tidak dalam kondisi penuh penumpang, karena apabila banyak penumpang carrier kami yang besar-besar akan cukup mengganggu. Setelah 1 jam perjalanan, kami ber-enam sampai di terminal dan langsung mencari keberadaan Austen. Kami pun bertemu dan anggota tim akhirnya lengkap. Setelah bercanda dan ketawa-ketiwi sekedarnya, kami langsung memutuskan untuk naik bus ekonomi rute Bandung – Bogor. Kami pun naik dan barang-barang bawaan kami diletakkan di bagian bagasi bus.

Selama perjalanan, saya pribadi lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur. Entah kenapa badan saya sangat letih pada saat naik bus ini, saya hanya bangun sebentar karena nyanyian para pengamen dan pedagang asongan yang silih berganti masuk ke dalam bus. Ada satu kelompok pengamen yang membuat saya sangat terkesima dan membuat saya menjadi tidak mengantuk lagi. Kelompok tersebut terdiri dari  3 orang, 1 orang pemain gitar, 1 orang pemain perkusi dan orang terakhir sebagai lead vocal yang membuat penampilan kelompok ini menjadi unik. Sang penyanyi ini juga membawa seruling dengan bunyi khas Sunda. Bayangkan, saat lagu pertama dimainkan, si penyanyi memainkan seruling dengan menggunakan nafas dari hidung! dan suara serulingnya pun terdengar merdu ditambah dengan semacam gerakan-gerakan silat saat si penyanyi melantunkan lagu yang membuat saya menjadi senyum sendiri melihat polahnya. Untuk lagu ketiga pun tak kalah heboh, si penyanyi bernyanyi dengan 2 suara berbeda, yang satu pria dan satu lagi suara wanita. Saat menjadi suara wanita, si penyanyi dengan sigap memasang syal yang menyerupai kerudung pada kepalanya,sehingga menyerupai seorang wanita. Hal ini jadi mengingatkan saya pada sosok Hudson IMB.

Tak terasa 4 jam perjalanan kami lewati sudah dan kami sampai pada daerah Cipanas. Dari sini kami masih harus naik angkot kuning lagi ke atas yaitu Cibodas. Berdasarkan dari hasil browsing, Gunung Gede – Pangrango memiliki beberapa jalur pendakian. Alasan kami memilih jalur Cibodas karena menurut Austen jalur ini lebih cepat perizinannya, karena sumber dari segala izin pendakian untuk setiap jalur berasal dari Pos jalur Cibodas ini. Setelah sampai di Cibodas, kami langsung menuju Pos perizinan untuk mengurus surat-surat. Sambil menunggu surat izin keluar, kami melaksanakan ISHOMA dan tentunya tidak lupa untuk foto-foto. Austen sempat melirik-lirik ke mbak2 penjaga Pos perizinan yang menurutnya cukup manis. Setelah surat sudah keluar, kami pun bersiap-siap untuk mendaki. Makan siang, sholat, pengecekan ulang barang-barang, dan pemanasan sudah kami lakukan. Let’s get ready!

Tim Pendaki MS 07

Perjalanan dimulai dan kami harus berpisah dengan Fauzan karena dia tidak ikut mendaki. Rencana pendakian ini adalah kami mendaki dan bermalam di tempat khusus para pendaki untuk berkemah yaitu Kandang Badak. Sebelum mencapai Kandang Badak, ada dua tempat yang saya rasa cukup bagus yaitu Telaga Biru dan Air Panas . Perjalanan pun kami mulai dari tempat Pos pukul 14.00. Fase pertama pada pendakian ini adalah melewati Taman Cibodas yang jalannya masih cukup lebar. Cukup banyak kami berpapasan dengan pasangan muda-mudi yang juga berlibur ke Taman Cibodas, tetapi dengan tujuan ke Air terjun Cibeureum bukan untuk mendaki. Pada saat pendakian, kami berhenti sebentar untuk melihat Telaga Biru, sebuah danau yang berwarna biru akibat tingginya populasi ganggang biru pada danau tersebut.

Telaga Biru

Setelah foto-foto, kami melanjutkan perjalanan dan sampai pada sebuah persimpangan, jalur kiri untuk jalur pendakian dan jalur kanan untuk ke Air terjun Cibeureum. Kami pun mengambil jalur kiri. Jalur ini sudah jalan setapak dan kami sudah tidak lagi menemukan pasangan muda-mudi yang sering kami temui sebelumnya. Kami lanjutkan perjalanan dan istirahat apabila ada salah satu dari anggota tim yang meminta rehat. Berdasarkan keterangan dari plang di Pos pintu Cibodas, Kandang Badak dapat ditempuh dalam waktu +/- 4 jam dan kami pun berharap demikian supaya tidak terlalu malam dan memiliki waktu istirahat yang cukup. Kami lanjutkan perjalanan dan setelah beberapa kali istirahat, kami sampai pada tempat menarik kedua yaitu Air Panas. Air Panas adalah air terjun yang temperaturnya mencapai 50 derajat Celcius dan lebih panas dari air pada tempat berendam di Ciater.

Air Panas

Perjalanan kami lanjutkan kembali dengan menggunakan stamina yang hampir terkuras habis. Pada akhir perjalanan kami hari ini, kami mendengar sayup-sayup suara manusia, dan kami yakin itu pasti Kandang Badak. akhirnya sampai di Kandang Badak pada pukul 19.15 sehingga memakan waktu +/- 5 jam dari pos Cibodas. Perasaan kami sangat senang karena kami sudah letih dan ingin beristirahat secepatnya. Kami langsung membagi tugas, saya dan Ilham mendirikan tenda, Zainal dan Austen bertugas menyiapkan makan malam sementara Arief dan Afif mengambil air untuk keperluan masak dan minum. Setelah SHOMA, kami langsung beres-beres dan mempersiapkan sleeping bag untuk beristirahat. Kami pun tidur, dan akan melanjutkan pendakian dimulai pada pukul 02.00 pagi hari.

suasana di dalam tenda

Pukul 02.00 alarm saya berbunyi. Saya serta Arief mulai membangunkan teman-teman yang masih tidur dan yang paling susah dibangunkan adalah Ilham. Barang-barang yang tidak diperlukan ditinggal di dalam tenda, dan tenda tidak kami bawa untuk mengurangi beban pikul yang kami bawa. Kami mulai packing sambil mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali dan siap berangkat pukul 03.00. Pada saat itu, kondisi sekitar sangat gelap sehingga wajib untuk setiap pendaki memiliki senter dengan performa yang masih baik. Kami pun mulai mendaki, dengan medan yang lebih berat dari sebelumnya. Jalan setapak semakin kecil dan sudut elevasi semakin membesar. Untungnya pada jalan ini banyak terdapat tiang-tiang pancang yang dihubungkan dengan kabel yang mempermudah proses pendakian ini. Kami pun menemui tanjakan tersulit sebelum mencapai puncak. Tanjakan ini, menurut Arief, dinamakan ‘Tanjakan Setan’, yang memang membutuhkan usaha yang sangat besar dan harus sangat hati-hati karena saking curamnya tanjakan ini. Mulai mendekati puncak Gede, kami pun dapat melihat puncak Gunung Pangrango yang memang bersebelahan. Pohon-pohon semakin jarang dan kami mulai dapat melihat bintang-bintang yang terhias di langit dengan indahnya. Kami yang sudah kecapekan, tiba-tiba bersemangat kembali supaya cepat sampai di puncak.

And finally..we have reached the summit!

Sekitar pukul 05.00 pagi kami sudah sampai di area puncak Gunung Gede. Kondisi pada saat itu masih gelap. Kami melaksanakan Sholat Subuh terlebih dahulu sambil menunggu momen ‘sun rise ‘. Setelah itu kami berjalan ke bagian tengah puncak dan pada pukul 05.30 mentari sudah menampakkan warnanya. Ditambah dengan awan-awan yang menyelimuti leher gunung membuat pemandangan pada hari itu sangat menakjubkan. Rasa lelah kami pun seketika hilang. Dinginnya hembusan angin di puncak pun tidak mengurangi kebahagiaan yang kami miliki atas pencapaian ini, sebuah pencapaian yang telah kami nanti-nantikan setelah melalui beratnya berjam-jam perjalanan.

Puncak Gunung Gede dan sunrise di ufuk timur

Setelah berfoto-foto, kami mengisi perut dengan memakan roti dan makanan berenergi. Pada sekitar pukul 07.00 kami memutuskan untuk turun dari puncak karena kondisi anginnya semakin kencang dan semakin dingin.Hidung kami semua menjadi meler-meler dan di alis saya terdapat serpihan es kecil saking dinginnya udara di puncak. Kami pun turun dengan perasaan lega dan ringan. Rasa capek pun hilang karena sudah terbayar lunas dari pencapaian puncak Gn. Gede. Walaupun begitu, kami masih tetap kesusahan saat menemui ‘Tanjakan Setan’ yang kedua kalinya saat turun.

Tanjakan Setan

Kami pun sampai di Kandang Badak dengan waktu yang lebih cepat. Ada kejadian dimana Austen mencari-cari keberadaan saya, karena dikira olehnya saya hilang padahal tidak. Pada saat jalan pulang saya memang sempat terpisah dari rombongan tetapi saya sampai lebih dahulu di tenda dibanding teman-teman yang lain. Maafkan The Lost Boy ini ya Ten! thanks for your attention. Setelah semua sampai di tenda, kami menyiapkan sarapan sambil beres-beres perlengkapan untuk pulang. Tidak lupa kami mengumpulkan sampah-sampah dari hasil bungkus makanan dan minuman kami. Diwajibkan atas pendaki untuk mengumpulkan sampah-sampahnya kembali agar kondisi alam ini tetap terjaga dengan baik. Saya sempat kesal karena di sekitar tenda kami terdapat sampah botol minuman keras yang tidak dikumpulkan kembali akibat dari ulah pendaki yang tidak bertanggung jawab. Sekitar pukul 11.00 siang kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan pulang dari Kandang Badak.

sesaat sebelum pulang

Untuk perjalanan pulang kami laksanakan dengan secepat yang kami bisa, walau memang stamina sudah terkuras habis. Pada perjalanan pulang rombongan kami terpisah. Austen dan Ilham berjalan paling depan sementara saya, Zainal, Arief dan Afif a.k.a agan altheonix berjalan di belakang. Saat pukul 14.00, tepat 24 jam dari mulai pendakian, kami semua sampai di Pos Cibodas. Alhamdulillah.. kami semua sampai dengan selamat. Kami pun langsung menuju tempat peristirahatan yang berada di Pos Perizinan. Kami melaksanakan ISHOMA, mandi dan bersih-bersih sesampainya di sana. Setelah dirasa cukup, pada pukul 16.00 kami memutuskan untuk pulang ke Bandung. Setelah turun dengan menggunakan angkot kuning, rencana awal kami adalah naik bus ekonomi seperti saat kami berangkat dari Bandung. Tetapi ada supir/ entahlah apa profesinya menggunakan mobil APV menawarkan kami untuk perjalanan pulang ke Bandung dengan biaya 25rb per orang. Kami pun memutuskan untuk menerima tawaran supir itu dengan pertimbangan jauh lebih untung naik mobil pribadi karena naik bus ekonomi membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai ke Bandung walau memang ongkosnya lebih murah. Perjalanan kami dari Cipanas sampai Bandung tidak perlu saya ceritakan di sini, karena bisa saja kembali memacu adrenalin pembaca. Intinya kami sampai dengan selamat di gerbang depan ITB pada pukul 19.30.

sampai di gerbang depan ITB

Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada :

  • Allah S.W.T, yang tanpa ridho-Nya tidak akan mungkin kami dapat selamat dalam perjalanan ini
  • Orangtua kami, yang telah memberikan kepercayaan dan semangat 

2 thoughts on “Catatan Perjalanan Pendakian Gunung Gede 2-3 Juni 2011

  1. Tulisannya bagus sekali bro. Luar biasa, mari menulis…. Dan mari mencoba menulis bahasa inggris juga. Karena kalau mau S2 di luar negri, Thesis nya kan di tulis pakai bahasa inggris, hehehe. Semangat brooo. I am proud of You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s